APAKAH SEBUAH DOA

*Doa tidak hanya terjadi saat kita berlutut atau mengatupkan tangan kita bersama dan fokus dan mengharapkan sesuatu dari TUHAN.*

*_Berpikir positif dan mengharapkan hal baik untuk orang lain juga merupakan sebuah Doa._*

_Saat Anda memeluk seorang teman. *Itu adalah sebuah Doa.*_

_Saat Anda memasak sesuatu untuk menyediakan makanan untuk keluarga dan teman teman. *Itu adalah sebuah Doa.*_

_Saat kita mengantarkan orang terkasih atau yg terdekat dan mengatakan ‘berkendaraanlah dengan aman’ atau ‘hati hati dijalan’. *Itu adalah sebuah Doa.*_

_Saat Anda menolong seseorang yg membutuhkan dengan memberikan waktu dan energi Anda. *Itu adalah sebuah Doa.*_

_Saat Anda memaafkan seseorang dari lubuk hati Anda. *Itu adalah sebuah Doa.*_

*DOA* adalah,
Sebuah getaran.
Sebuah perasaan.
Sebuah pikiran.

*Doa adalah suara dari kasih, persahabatan, relasi yg murni.*
*Doa adalah ekspresi dari keberadaan kita dalam diam.*

SELAMAT PAGI
Selalu setialah ber DOA
Tetap dalam berkat TUHAN.

Iklan

ANTARA BENAR DAN MERASA BENAR

Bagus untuk dibaca dan direnungkan..

Menjadi *Benar* itu penting, namun *Merasa Benar* itu tidak baik.
*Kearifan* akan membuat seorang menjadi Benar, tetapi *bukan* Merasa Benar.

Perbedaan *Orang Benar* dan *Orang Yg Merasa Benar*:

*1*🔅Orang Benar, *tidak akan berpikiran* bahwa ia adalah yg *paling* benar.

*2 Sebaliknya* orang yg *merasa benar*, di dalam pikirannya hanya dirinyalah yg *paling* benar.

*3*🔸Orang *Benar*, bisa *menyadari* kesalahannya.

*4*🔸Sedangkan Orang Yg *Merasa Benar*, merasa *tidak perlu untuk Mengaku Salah*.

*5*🔸Orang *Benar*, setiap saat akan *introspeksi* diri dan *bersikap Rendah Hati*.

*6*🔸Tetapi Orang Yg *Merasa Benar*, merasa *tidak perlu introspeksi*, Karena merasa *paling benar*, mereka cenderung *Tinggi Hati*.

*7*🔸Orang *Benar* memiliki *Kelembutan Hati*. Ia dapat *menerima masukan* dan *kritikan*dari siapa saja, *sekalipun itu dari anak kecil*.

*8*🔸Orang Yg *Merasa Benar*, *Hatinya Keras* Ia *sulit* untuk menerima nasihat dan masukan apalagi *kritikan*.

*9*🔸Orang *Benar* akan selalu *Menjaga Perkataan dan Perilakunya*, serta berucap Penuh *Kehati-hatian*.

*10*🔸Orang Yg *Merasa Benar* : berpikir, berkata, dan berbuat *sekehendak hatinya, tanpa *pertimbangan atau mempedulikan perasaan orang lain*

*11*🔸Pada akhirnya, orang *Benar* akan *dihormati, dicintai dan disegani oleh hampir semua orang*

*12*🔸Sedangkan orang yg *Merasa Benar Sendiri* hanya akan *disanjung oleh mereka yg berpikiran sempit, dan yg sepemikiran dgnnya, atau mereka yg hanya ‘sekedar ingin memanfaatkan’ dirinya*.

*13🔸Mari terus memperbaiki diri untuk bisa Menjadi Benar, agar tidak selalu Merasa Benar*.

*14🔸Bila kita sudah termasuk tipe Orang Benar, tetaplah dalam Kebenaran dan selalu Rendah Hati*.
Sumber : Benar adalah dari
Getaran Hati.
Sumber : Merasa benar berasal dari Getaran Nafsu.

Semoga bermanfaat dan jadi Inspirasi kita. 🙏🙏🙏

MENGAMPUNI

Renungan malam ini adalah Mengampuni

Saudara yang dikasih Tuhan Yesus Kristus, sebelum membaca renungan ini baiklah terlebih dahulu kita berdoa bersama-sama.

Doa: Tuhan Yesus, kami menyadari bahwa seringkali cara hidup kami tidak tepat sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki, sehingga pelanggaran itulah yang membuat kami berdosa dihadapan-Mu. Oleh sebab itu kami mohon pengampunan dari pada-Mu ya Tuhan dan kami juga mau mengampuni orang yang bersalah kepada kami dalam seluruh gerak hidup kami, dan ajar kami ya Tuhan untuk mengerti Firman-Mu supaya kami boleh hidup sesuai Firman-Mu, dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, Amin.

Satu hal yang masih sering menjadi persoalan yang selalu membelenggu orang percaya atau orang kristen sampai saat ini adalah, masih banyak orang percaya yang begitu sulit untuk mengampuni orang lain, baik itu istri yang sulit mengampuni suaminya, suami yang sulit mengampuni istrinya, anak-anak yang sulit mengampuni orang tuanya, menantu yang sulit mengampuni mertua, mertua yang tidak mau mengampuni menantu, adik yang tidak mau mengampuni kakaknya, atau sebaliknya, dan ada juga hidup orang percaya yang penuh dengan kebencian, dendam, serta kepahitan terhadap orang lain, baik itu dilingkungan dimana ia tinggal, bekerja, disekolah, dikampus, atau dimana saja, dan hal ini masih banyak ditemukan ditengah-tengah kehidupan orang percaya atau orang kristen.

Kalau kehidupan orang percaya atau orang kristen ada yang seperti ini, apakah masih pantas orang yang memiliki karakter seperti ini disebut sebagai orang kristen, yang artinya pengikut Kristus. Rasanya tidak pantas orang tersebut mengklaim dirinya sebagai orang kristen atau pengikut Kristus, karena pengikut Kristus berarti ia harus memiliki kepribadian yang sama seperti Kristus, sebab apabila ia tidak memiliki kepribadian yang sama seperti Kristus maka sesungguhnya sebagai orang percaya atau orang kristen, ia sedang mempermalukan Kristus yang diakuinya sebagai Tuhan dan juruselamatnya.

Sebenarnya hal ini sangat ironis sekali, karena Tuhan Yesus sendiri mau mengampuni semua dosa manusia atau orang percaya yang mau datang dan memohon pengampunan kepada-Nya, lalu bagaimana mungkin sebagai orang percaya kita masih memiliki cara hidup atau karakter yang bertolak belakang dengan pribadi Kristus ?.

Firman Tuhan katakan didalam, Mazmur 86:5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. Dari kebenaran Firman ini, kita bisa melihat bahwa salah satu sifat Tuhan adalah suka mengampuni, bahkan dikatakan berlimpah kasih setia bagi orang yang berseru kepadaNya. Artinya Tuhan selalu memberi pengampunan tanpa batas selama seseorang mau menyadari kesalahannya dan ia mau datang serta memohon pengampunan kepada Tuhan, pasti Tuhan akan mengampuni.

Kita juga sudah sering mendengar tentang hal pengampunan ini saat Petrus datang dan bertanya kepada Yesus didalam, Matius 18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” 18:22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Perkataan Tuhan Yesus ini dapat memberi gambaran kepada kita sebagai orang percaya tentang pengampunan yang harus diberikan kepada orang lain tanpa batas, karena Allah juga memberikan pengampunan kepada orang yang mau mengaku dosanya tanpa batas.

Firman Tuhan katakan didalam Mazmur 32:5 Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Firman Tuhan didalam, 1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jadi bila setiap orang percaya yang mau datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan maka Tuhan akan mengampuninya.

Apa yang sudah kita lihat diatas adalah sifat Allah yang selalu penuh dengan belas kasihan yang mau mengampuni setiap kesalahan manusia yang berdosa saat manusia datang kepadaNya dan memohon pengampunan. Kenapa Allah melakukan itu ?, karena Allah itu adalah kasih, Allah itu kasih adanya.

Lalu mengapa ada orang percaya yang sama sekali begitu sulit, atau bahkan tidak mau untuk mengampuni orang lain ?, bahkan seringkali kita dengar tidak sedikit ada orang percaya atau orang Kristen yang membenci orang lain dan berkata, ”sampai matipun saya tidak akan mengampuni dia”. Orang yang seperti ini yang dikatakan tadi bahwa ia tidak pantas menyebut dirinya sebagai orang percaya, orang kristen atau anak Tuhan, yang seringkali berdoa dan memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa, karena sifat atau karakter seperti ini bila dimiliki oleh setiap orang percaya atau orang kristen maka sesungguhnya ia sedang mempermalukan Tuhan, sebab orang dunia bisa berpikir “bukankah Tuhan yang dia sembah itu katanya penuh kasih, tetapi kenapa ia hidup dalam kebencian dan kepahitan dan tidak mau mengampuni orang lain ?”.

Allah itu adalah kasih dan Ia menyatakan kasihNya didalam Tuhan Yesus Kristus, dimana Tuhan Yesus sendiri telah menunjukan kasihNya bahkan mengajarkan kasih itu dengan sebuah isyarat bahwa pengampunan itu harus dilakukan tanpa batas. Ingat itu yang Tuhan Yesus katakan kepada Petrus (Matius 18:21-22).

Tuhan selalu mau mengampuni tanpa batas setiap orang yang mau datang kepada Tuhan dan mengaku dosanya. Dalam hal ini pernahkan kita berpikir bahwa sebenarnya belas kasihan Tuhan yang mau mengampuni dosa manusia tanpa batas itu, hanya karena Ia tidak mau ada manusia ciptaanNya yang binasa.

Allah mau mengampuni kita supaya kita tidak binasa, tetapi orang yang tidak mau mengampuni orang lain artinya ia membuat dirinya sendiri binasa, karena Firman Tuhan katakan dalam, Matius 6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Disinilah terletak hakekat Allah bahwa Dia adalah Allah yang adil yang menghakimi tanpa memandang muka, karena bagi Allah, mengampuni adalah merupakan kehendakNya yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya.

Jadi bila Allah tidak mengampuni kesalahan seseorang, itu bukan karena Allah tidak mau mengampuni, tetapi karena orang tersebut yang tidak mau diampuni Allah, sebab ia sendiri tidak mau mengampuni orang lain, dan bila ini yang terjadi dalam hidup orang percaya, maka pengiringannya akan Tuhan selama ini menjadi sia-sia karena berujung pada kebinasaan, padahal semua orang yang mau percaya kepada Allah didalam Tuhan Yesus Kristus hanya memiliki satu tujuan yaitu memperoleh keselamatan didalam Tuhan Yesus Kristus.

Ingat Pesan ini:

Jika engkau mau diampuni oleh Allah maka ampunilah juga setiap orang yang bersalah kepadamu. Inilah yang diajarkan Tuhan Yesus didalam doa Bapa kami, Matius 6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.Bila engkau mengeraskan hatimu dan tidak mau mengampuni orang yang bersalah kepadamu, maka langkah kakimu sedang berjalan menuju pintu jurang kebinasaan.

Ambillah keputusan saat ini juga untuk mengampuni setiap orang yang bersalah kepadamu, supaya Bapamu yang di Sorga juga mengampuni engkau.

Tuhan Yesus memberkati kita semua

BERSERAH DIRI pada RANCANGAN ALLAH SWT

BERSERAH DIRI pada RANCANGAN ALLAH SWT

 

Sesungguhnya kau tidak mengetahui akhir dan akibat dari setiap urusan. Mungkin kau bisa mengatur dan merancang sebuah urusan yang baik menurutmu. Tetapi ternyata urusan itu berakibat buruk bagimu.

Mungkin saja ada keuntungan di balik kesulitan, dan sebaliknya banyak kesulitan di balik keuntungan. Bisa bahaya datang dari kemudahan dan kemudahan datang dari bahaya.

Mungkin saja anugerah tersimpan dalam ujian dan cobaan tersembunyi di balik anugerah.

Dan bisa jadi kau mendapatkan manfaat lewat tangan musuh, dan binasa lewat orang yang kau cintai.

Orang yang berakal tidak akan ikut MENGATUR bersama Allah, karena ia tidak mengetahui mana yang berguna dan mana yang berhahaya bagi dirinya.
Syekh Abu al-Hasan rahimahullah berkata: “Ya Allah, aku tidak berdaya menolak bahaya dari diri kami meskipun datang dari arah yang kami ketahui dan dengan cara yang kami ketahui. Lalu, bagaimana kami mampu menolak bahaya yang datang dari arah dan cara yang tidak kami ketahui?!”

Cukuplah untukmu firman Allah: “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik untuk kalian. Bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk untuk kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah:216)

Sering kali kau menginginkan sesuatu, namun Dia memalingkannya darimu. Akibatnya, kau merasa sedih dan terus menginginkannya.

Namun, ketika akhir dan akibat dari apa yang kauhasratkan itu tersingkap, barulah kau menyadari bahwa Allah SWT melihatmu dengan pandangan yang baik dari arah yang tidak kau ketahui dan memilihkan untukmu dari arah yang tidak kauketahui.

Sungguh buruk… seorang hamba yang tidak paham dan tidak pasrah kepada-Nya.

Diceritakan bahwa ada seorang arif, yang ketika ditimpa musibah, berkata, “Tak apa-apa, itu baik.” Pada suatu malam, seekor srigala datang dan memakan ayamnya. Ketika diberitahu, la menjawab, “Tidak apa-apa.” Di malam berikutnya anjingnya mati. Saat diberi tahu ia menjawab, “Semuanya baik-baik saja.” Lalu esok harinya keledainya juga mati. la tetap berkata, “Tak apa.” Keluarganya tidak menyukai jawaban itu.

Namun, pada malam berikutnya, sekelompok orang menyerang desa itu dan membunuh semua penduduknya. Tidak ada yang selamat kecuali si arif dan keluarganya. Ternyata, gerombolan itu mendatangi penduduk mengikuti suara ayam, gonggongan anjing, dan bunyi keledai. Sementara, si arif itu tak lagi memilikinya. Kematian hewan-hewan itu menjadi sebab keselamatannya. Mahasuci Allah Yang Maha Mengatur dan Maha Bijaksana.

Seorang hamba menyadari baiknya pengaturan Allah setelah suatu peristiwa berlalu. Itulah sifat manusia kebanyakan. Berbeda dengan kalangan khusus yang memahami Allah dan mengetahui baiknya pengaturan Allah sebelum peristiwa itu berlalu. Kalangan khusus ini pun terbagi ke dalam beberapa tingkatan:

  • Ada orang yang berbaik sangka kepada Allah Swt sehingga mereka berserah diri kepada-Nya karena Dia telah banyak memberikan anugerah dan karunia.
  • Ada yang berbaik sangka kepada Allah Swt karena mengetahui bahwa merisaukan nasib dan ikut mengatur tidak akan mampu menolak ketentuan yang telah ditetapkan atas dirinya dan tidak akan mendatangkan apa yang bukan bagiannya.
  • Ada pula orang yang berbaik sangka kepada Allah Swt karena memahami hadis qudsi, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” la terus berbaik sangka kepada Allah Swt seraya bekerja dan berusaha dengan harapan Allah akan memperlakukannya sesuai dengan prasangkanya yang baik. Dan, Allah berbuat kepadanya sesuai dengan prasangkanya. Allah telah memudahkan karunia bagi orang beriman sesuai dengan prasangka mereka. Dia berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan.”
  • Tingkatan paling tinggi adalah orang yang menyerah dan pasrah kepada Allah Swt karena menyadari bahwa sikap itulah yang layak ia jalani, bukan karena mengharapkan kebaikan bagi dirinya.

(Dikutip dari al-Tanwir fi isqath al-tadbir, karya Ibn ‘Athaillah al-Sakandari).

Fire brigade shows 30 rescue lane blockers

rettungsgasse-106_t-1489695523728_v-16to7

A man falls victim to the motorway – and the rescue workers do not reach him because the drivers do not form a rescue lane. As they walk on foot, they are even mocked. The fire brigade now wants to display the blockers.

“It could have been fatal!” – Feuerwehrmann Theo Herrmann is a guest at Hallo Hessen[Videoseite]

Theo Herrmann is still stunned a day later: “They asked me what I would imagine, who I was at all, and I should not make such a circus.” 59 years, Herrmann is old, he has been with the fire brigade Mörfelden for 46 years, now as deputy city brigade inspector – “but I have not experienced it yet.” This is a new dimension, “he says. Furnished, by wild men. And all because he wanted to help a severely injured person.

What happened? When working on a motorway bridge near Weiterstadt, a scaffolding contractor plunged five meters into the ground on a restricted section of the A5 towards the south on Wednesday at around 16:20. The 49-year-old injured himself heavily. At the accident site, a traffic jam quickly developed. Emergency physicians and fire brigades were alerted.

“A few sleepers”

A police car with the signal “Bitte Resettungsgasse bilden” led two rescue cars through the traffic jam, the drivers also drove as required left and right to let the vehicles through – but then meant “a few Schlaumeier”, as Herrmann says they could be behind the Vehicles also drive through the escape lane and thus get faster through the traffic jam.

When three large vehicles of the fire brigade Mörfelden – in one of them sat Herrmann – and an emergency car wanted also by the rescue lane, was now blocked. “For the first two kilometers, we needed more than 20 minutes, and then there was nothing left to stop the cars, grab our Sani backpacks and walk the last 800 meters, with uniform and helmet,” says Herrmann . On the way, they had pointed out the traffic to their drivers – and were laughed at.

“Then I just had bad luck”

“We are there voluntarily,” says Herrmann, “and we are there to help, not to make us fool.” He told people to imagine that they had themselves been killed – “they just say, ‘I just had bad luck.'” Of some 30 particularly brave drivers, the rescue workers took photos, they are to be brought on display on Friday. The Bild-Zeitung had first reported on the new development. It is still unclear whether this is determined by an administrative offense or a criminal offense.

Until Friday afternoon, however, no announcement was received by the motorway police or the police department of Southern Hesse, as its spokesman Bernd Hochstädter said. Mörfelder firefighters had told him that they had already advertised the ads. Perhaps the mail server with the e-mails with many attached photos were asked, said Hochstädter.

Time for the pictures was only because the injured was now only provided: accidentally an emergency surgeon on the opposite direction at the accident site, who took care of the scaffolder, landed on the counter-track of the rescue helicopter and brought the man to a Frankfurt hospital. “But if someone is pinched, and we’re not going through, it’s about minutes, until we’ve fought through the traffic jam for half an hour,” he says.

Rescue lanes are a controversy

Time and again, Hesse is being discussed about rescue routes. Thus the deployment delayed three weeks ago on the A67 at Rüsselsheim by about one hour, because no escape lane was formed or closed again. Two weeks ago, helpers had to run two kilometers on the A7 near Kassel-Mitte . The problem here was: Because of a construction site the highway was so narrow that no escape was possible .

This was not the case on Wednesday on the A5 – the first hospitals came through. Herrmann is the most annoyed about the reaction of those affected. “It always happens that someone is sleeping in the escape road, or people are taking photos, but this absolute equivalency is new.”

How the rescue lane works [Videoseite]


RESCUE LANE

The duty to rescue is regulated in the road traffic regulations in paragraph 11, paragraph 2 . It must be complied with even if there is no emergency situation. Always between the left and the remaining lanes. If you do not stick to it, you will face a fine of 20 euros. Elsewhere, this is more expensive: In Austria the infringement costs 726 euros.

In addition there is the criminal offense “Resistance against persons, which are equal to enforcement officials”, regulated in paragraph 114 criminal code. According to this, “anyone who impedes the fire brigade, catastrophe protection or a rescue service by violence or by threat of violence in the case of accidents or common danger or emergency”

According to the police and prosecutor’s office in Darmstadt, this criminal offense does not exist in the current case. To this end, a determination must be made, as well as violence in the disability of firefighters.


PILIHAN & KONSEKUENSI

PILIHAN & KONSEKUENSI

 

Orang bilang, hidup itu pilihan. Tidak. Kalimat itu hanya sepenggal. Kalimat itu tidak lengkap. Ada bagian yang dihilangkan.

Ya, Anda memang bebas memilih untuk mengambil keputusan seperti apa. Memilih itu memang berarti mengambil keputusan. Dan…jangan sampai lupa, bahwa memilih itu ya mesti mau tidak mau, ya menanggung konsekuensi dari pilihan Anda. Jika sudah memilih tapi tak mau bertanggung jawab atas konsekuensinya, ya persoalan itu akan terus mengejar sampai kapan pun. Mengikat Anda.

Padahal, mengambil keputusan ini sebenarnya mudah. Memilih menghadapi persoalan sekarang, maka beratnya 1 kg. Memilih besok, ya berat persoalan bertambah jadi 2 kg. Memilih 3 tahun mendatang, ya beratnya hampir 1 ton.
Ringkasnya, Anda memang bebas memilih, tetapi tidak bebas dari tanggung jawabnya.
***

Jadi, kalau Anda memutuskan melarang anak makan permen; lalu suami Anda memutuskan untuk membolehkannya makan permen daripada rewel, tidak usah berantem. Catat saja keputusan suami itu, kalau perlu direkam. Lalu, jika besok atau minggu depan, anak Anda rewel merengek minta permen lagi, minta suami yang bertanggung jawab sambil bawakan buku catatan tadi.

Jika Anda memutuskan melarang anak main game, dan istri Anda membolehkannya terus main daripada nggak mau makan, maka catat saja pilihannya itu. Dan jika kelak saat anak sudah berumur 25 tahun dan masih juga kecanduan main game dan tidak menyelesaikan kuliahnya, berikan catatan lama itu kepada istri Anda. Minta ia bertanggung jawab.

Tentu saja, dua kasus di atas ini bukan tips dari saya, walau silakan saja jika Anda mencobanya. Itu pilihan dan keputusan Anda. He…he…

Memilih itu mudah, jika Anda bersedia menanggung konsekuensinya. Tentu saja, Anda tidak ksatria, tidak bertanggung jawab, tidak berkomitmen, jika ikut campur mengambil keputusan, tetapi menyerahkan akibat atau konsekuensi dari pilihan itu ke tangan orang lain, khususnya pasangan Anda. Itu termasuk pengkhianatan.

Jadi, kalau istri sudah melarang anak makan permen, jangan menganulir keputusannya, jangan membatalkan keputusannya, kecuali jika Anda bersedia menanggung konsekuensinya. Kalau tidak bersedia menanggung konsekuensinya, ya lebih baik mengikuti keputusan istri.

Bersepakat akan suatu pilihan karena bersedia bertanggung jawab ini hal yang sangat penting. Jika Anda terbiasa bertanggung jawab, maka ketika sudah sepuh kelak, ketika sudah jadi kakek dan nenek, Anda akan memikir 777 kali sebelum mengintervensi pengasuhan cucu Anda. Biarkan saja orangtuanya yang mengambil keputusan. Anda sebagai nenek atau kakeknya, tidak perlu ikut campur mengambil keputusan — kecuali Anda mau menanggung konsekuensinya. Memangnya, kalau sudah tua, masih sanggup akan segala kerepotan mengurus cucu? Tidak kan? Bukankah lebih baik membaca koran atau novel di halaman sambil melihat cucu-cucu bermain dengan manis? Ingin begitu? Ya, itu tadi, jangan intervensi.

Selamat pagi. Selamat mengambil keputusan-keputusan baik. Tuhan memberkati keputusan Anda.

#ResponsibleDecision #ChoiceAndConsequences

 


*Shared from Dono Baswardono Parenting