APAKAH SEBUAH DOA

*Doa tidak hanya terjadi saat kita berlutut atau mengatupkan tangan kita bersama dan fokus dan mengharapkan sesuatu dari TUHAN.*

*_Berpikir positif dan mengharapkan hal baik untuk orang lain juga merupakan sebuah Doa._*

_Saat Anda memeluk seorang teman. *Itu adalah sebuah Doa.*_

_Saat Anda memasak sesuatu untuk menyediakan makanan untuk keluarga dan teman teman. *Itu adalah sebuah Doa.*_

_Saat kita mengantarkan orang terkasih atau yg terdekat dan mengatakan ‘berkendaraanlah dengan aman’ atau ‘hati hati dijalan’. *Itu adalah sebuah Doa.*_

_Saat Anda menolong seseorang yg membutuhkan dengan memberikan waktu dan energi Anda. *Itu adalah sebuah Doa.*_

_Saat Anda memaafkan seseorang dari lubuk hati Anda. *Itu adalah sebuah Doa.*_

*DOA* adalah,
Sebuah getaran.
Sebuah perasaan.
Sebuah pikiran.

*Doa adalah suara dari kasih, persahabatan, relasi yg murni.*
*Doa adalah ekspresi dari keberadaan kita dalam diam.*

SELAMAT PAGI
Selalu setialah ber DOA
Tetap dalam berkat TUHAN.

Iklan

ANTARA BENAR DAN MERASA BENAR

Bagus untuk dibaca dan direnungkan..

Menjadi *Benar* itu penting, namun *Merasa Benar* itu tidak baik.
*Kearifan* akan membuat seorang menjadi Benar, tetapi *bukan* Merasa Benar.

Perbedaan *Orang Benar* dan *Orang Yg Merasa Benar*:

*1*🔅Orang Benar, *tidak akan berpikiran* bahwa ia adalah yg *paling* benar.

*2 Sebaliknya* orang yg *merasa benar*, di dalam pikirannya hanya dirinyalah yg *paling* benar.

*3*🔸Orang *Benar*, bisa *menyadari* kesalahannya.

*4*🔸Sedangkan Orang Yg *Merasa Benar*, merasa *tidak perlu untuk Mengaku Salah*.

*5*🔸Orang *Benar*, setiap saat akan *introspeksi* diri dan *bersikap Rendah Hati*.

*6*🔸Tetapi Orang Yg *Merasa Benar*, merasa *tidak perlu introspeksi*, Karena merasa *paling benar*, mereka cenderung *Tinggi Hati*.

*7*🔸Orang *Benar* memiliki *Kelembutan Hati*. Ia dapat *menerima masukan* dan *kritikan*dari siapa saja, *sekalipun itu dari anak kecil*.

*8*🔸Orang Yg *Merasa Benar*, *Hatinya Keras* Ia *sulit* untuk menerima nasihat dan masukan apalagi *kritikan*.

*9*🔸Orang *Benar* akan selalu *Menjaga Perkataan dan Perilakunya*, serta berucap Penuh *Kehati-hatian*.

*10*🔸Orang Yg *Merasa Benar* : berpikir, berkata, dan berbuat *sekehendak hatinya, tanpa *pertimbangan atau mempedulikan perasaan orang lain*

*11*🔸Pada akhirnya, orang *Benar* akan *dihormati, dicintai dan disegani oleh hampir semua orang*

*12*🔸Sedangkan orang yg *Merasa Benar Sendiri* hanya akan *disanjung oleh mereka yg berpikiran sempit, dan yg sepemikiran dgnnya, atau mereka yg hanya ‘sekedar ingin memanfaatkan’ dirinya*.

*13🔸Mari terus memperbaiki diri untuk bisa Menjadi Benar, agar tidak selalu Merasa Benar*.

*14🔸Bila kita sudah termasuk tipe Orang Benar, tetaplah dalam Kebenaran dan selalu Rendah Hati*.
Sumber : Benar adalah dari
Getaran Hati.
Sumber : Merasa benar berasal dari Getaran Nafsu.

Semoga bermanfaat dan jadi Inspirasi kita. 🙏🙏🙏

MENGAMPUNI

Renungan malam ini adalah Mengampuni

Saudara yang dikasih Tuhan Yesus Kristus, sebelum membaca renungan ini baiklah terlebih dahulu kita berdoa bersama-sama.

Doa: Tuhan Yesus, kami menyadari bahwa seringkali cara hidup kami tidak tepat sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki, sehingga pelanggaran itulah yang membuat kami berdosa dihadapan-Mu. Oleh sebab itu kami mohon pengampunan dari pada-Mu ya Tuhan dan kami juga mau mengampuni orang yang bersalah kepada kami dalam seluruh gerak hidup kami, dan ajar kami ya Tuhan untuk mengerti Firman-Mu supaya kami boleh hidup sesuai Firman-Mu, dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, Amin.

Satu hal yang masih sering menjadi persoalan yang selalu membelenggu orang percaya atau orang kristen sampai saat ini adalah, masih banyak orang percaya yang begitu sulit untuk mengampuni orang lain, baik itu istri yang sulit mengampuni suaminya, suami yang sulit mengampuni istrinya, anak-anak yang sulit mengampuni orang tuanya, menantu yang sulit mengampuni mertua, mertua yang tidak mau mengampuni menantu, adik yang tidak mau mengampuni kakaknya, atau sebaliknya, dan ada juga hidup orang percaya yang penuh dengan kebencian, dendam, serta kepahitan terhadap orang lain, baik itu dilingkungan dimana ia tinggal, bekerja, disekolah, dikampus, atau dimana saja, dan hal ini masih banyak ditemukan ditengah-tengah kehidupan orang percaya atau orang kristen.

Kalau kehidupan orang percaya atau orang kristen ada yang seperti ini, apakah masih pantas orang yang memiliki karakter seperti ini disebut sebagai orang kristen, yang artinya pengikut Kristus. Rasanya tidak pantas orang tersebut mengklaim dirinya sebagai orang kristen atau pengikut Kristus, karena pengikut Kristus berarti ia harus memiliki kepribadian yang sama seperti Kristus, sebab apabila ia tidak memiliki kepribadian yang sama seperti Kristus maka sesungguhnya sebagai orang percaya atau orang kristen, ia sedang mempermalukan Kristus yang diakuinya sebagai Tuhan dan juruselamatnya.

Sebenarnya hal ini sangat ironis sekali, karena Tuhan Yesus sendiri mau mengampuni semua dosa manusia atau orang percaya yang mau datang dan memohon pengampunan kepada-Nya, lalu bagaimana mungkin sebagai orang percaya kita masih memiliki cara hidup atau karakter yang bertolak belakang dengan pribadi Kristus ?.

Firman Tuhan katakan didalam, Mazmur 86:5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. Dari kebenaran Firman ini, kita bisa melihat bahwa salah satu sifat Tuhan adalah suka mengampuni, bahkan dikatakan berlimpah kasih setia bagi orang yang berseru kepadaNya. Artinya Tuhan selalu memberi pengampunan tanpa batas selama seseorang mau menyadari kesalahannya dan ia mau datang serta memohon pengampunan kepada Tuhan, pasti Tuhan akan mengampuni.

Kita juga sudah sering mendengar tentang hal pengampunan ini saat Petrus datang dan bertanya kepada Yesus didalam, Matius 18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” 18:22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Perkataan Tuhan Yesus ini dapat memberi gambaran kepada kita sebagai orang percaya tentang pengampunan yang harus diberikan kepada orang lain tanpa batas, karena Allah juga memberikan pengampunan kepada orang yang mau mengaku dosanya tanpa batas.

Firman Tuhan katakan didalam Mazmur 32:5 Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Firman Tuhan didalam, 1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jadi bila setiap orang percaya yang mau datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan maka Tuhan akan mengampuninya.

Apa yang sudah kita lihat diatas adalah sifat Allah yang selalu penuh dengan belas kasihan yang mau mengampuni setiap kesalahan manusia yang berdosa saat manusia datang kepadaNya dan memohon pengampunan. Kenapa Allah melakukan itu ?, karena Allah itu adalah kasih, Allah itu kasih adanya.

Lalu mengapa ada orang percaya yang sama sekali begitu sulit, atau bahkan tidak mau untuk mengampuni orang lain ?, bahkan seringkali kita dengar tidak sedikit ada orang percaya atau orang Kristen yang membenci orang lain dan berkata, ”sampai matipun saya tidak akan mengampuni dia”. Orang yang seperti ini yang dikatakan tadi bahwa ia tidak pantas menyebut dirinya sebagai orang percaya, orang kristen atau anak Tuhan, yang seringkali berdoa dan memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa, karena sifat atau karakter seperti ini bila dimiliki oleh setiap orang percaya atau orang kristen maka sesungguhnya ia sedang mempermalukan Tuhan, sebab orang dunia bisa berpikir “bukankah Tuhan yang dia sembah itu katanya penuh kasih, tetapi kenapa ia hidup dalam kebencian dan kepahitan dan tidak mau mengampuni orang lain ?”.

Allah itu adalah kasih dan Ia menyatakan kasihNya didalam Tuhan Yesus Kristus, dimana Tuhan Yesus sendiri telah menunjukan kasihNya bahkan mengajarkan kasih itu dengan sebuah isyarat bahwa pengampunan itu harus dilakukan tanpa batas. Ingat itu yang Tuhan Yesus katakan kepada Petrus (Matius 18:21-22).

Tuhan selalu mau mengampuni tanpa batas setiap orang yang mau datang kepada Tuhan dan mengaku dosanya. Dalam hal ini pernahkan kita berpikir bahwa sebenarnya belas kasihan Tuhan yang mau mengampuni dosa manusia tanpa batas itu, hanya karena Ia tidak mau ada manusia ciptaanNya yang binasa.

Allah mau mengampuni kita supaya kita tidak binasa, tetapi orang yang tidak mau mengampuni orang lain artinya ia membuat dirinya sendiri binasa, karena Firman Tuhan katakan dalam, Matius 6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Disinilah terletak hakekat Allah bahwa Dia adalah Allah yang adil yang menghakimi tanpa memandang muka, karena bagi Allah, mengampuni adalah merupakan kehendakNya yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya.

Jadi bila Allah tidak mengampuni kesalahan seseorang, itu bukan karena Allah tidak mau mengampuni, tetapi karena orang tersebut yang tidak mau diampuni Allah, sebab ia sendiri tidak mau mengampuni orang lain, dan bila ini yang terjadi dalam hidup orang percaya, maka pengiringannya akan Tuhan selama ini menjadi sia-sia karena berujung pada kebinasaan, padahal semua orang yang mau percaya kepada Allah didalam Tuhan Yesus Kristus hanya memiliki satu tujuan yaitu memperoleh keselamatan didalam Tuhan Yesus Kristus.

Ingat Pesan ini:

Jika engkau mau diampuni oleh Allah maka ampunilah juga setiap orang yang bersalah kepadamu. Inilah yang diajarkan Tuhan Yesus didalam doa Bapa kami, Matius 6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.Bila engkau mengeraskan hatimu dan tidak mau mengampuni orang yang bersalah kepadamu, maka langkah kakimu sedang berjalan menuju pintu jurang kebinasaan.

Ambillah keputusan saat ini juga untuk mengampuni setiap orang yang bersalah kepadamu, supaya Bapamu yang di Sorga juga mengampuni engkau.

Tuhan Yesus memberkati kita semua

BERSERAH DIRI pada RANCANGAN ALLAH SWT

BERSERAH DIRI pada RANCANGAN ALLAH SWT

 

Sesungguhnya kau tidak mengetahui akhir dan akibat dari setiap urusan. Mungkin kau bisa mengatur dan merancang sebuah urusan yang baik menurutmu. Tetapi ternyata urusan itu berakibat buruk bagimu.

Mungkin saja ada keuntungan di balik kesulitan, dan sebaliknya banyak kesulitan di balik keuntungan. Bisa bahaya datang dari kemudahan dan kemudahan datang dari bahaya.

Mungkin saja anugerah tersimpan dalam ujian dan cobaan tersembunyi di balik anugerah.

Dan bisa jadi kau mendapatkan manfaat lewat tangan musuh, dan binasa lewat orang yang kau cintai.

Orang yang berakal tidak akan ikut MENGATUR bersama Allah, karena ia tidak mengetahui mana yang berguna dan mana yang berhahaya bagi dirinya.
Syekh Abu al-Hasan rahimahullah berkata: “Ya Allah, aku tidak berdaya menolak bahaya dari diri kami meskipun datang dari arah yang kami ketahui dan dengan cara yang kami ketahui. Lalu, bagaimana kami mampu menolak bahaya yang datang dari arah dan cara yang tidak kami ketahui?!”

Cukuplah untukmu firman Allah: “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik untuk kalian. Bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk untuk kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah:216)

Sering kali kau menginginkan sesuatu, namun Dia memalingkannya darimu. Akibatnya, kau merasa sedih dan terus menginginkannya.

Namun, ketika akhir dan akibat dari apa yang kauhasratkan itu tersingkap, barulah kau menyadari bahwa Allah SWT melihatmu dengan pandangan yang baik dari arah yang tidak kau ketahui dan memilihkan untukmu dari arah yang tidak kauketahui.

Sungguh buruk… seorang hamba yang tidak paham dan tidak pasrah kepada-Nya.

Diceritakan bahwa ada seorang arif, yang ketika ditimpa musibah, berkata, “Tak apa-apa, itu baik.” Pada suatu malam, seekor srigala datang dan memakan ayamnya. Ketika diberitahu, la menjawab, “Tidak apa-apa.” Di malam berikutnya anjingnya mati. Saat diberi tahu ia menjawab, “Semuanya baik-baik saja.” Lalu esok harinya keledainya juga mati. la tetap berkata, “Tak apa.” Keluarganya tidak menyukai jawaban itu.

Namun, pada malam berikutnya, sekelompok orang menyerang desa itu dan membunuh semua penduduknya. Tidak ada yang selamat kecuali si arif dan keluarganya. Ternyata, gerombolan itu mendatangi penduduk mengikuti suara ayam, gonggongan anjing, dan bunyi keledai. Sementara, si arif itu tak lagi memilikinya. Kematian hewan-hewan itu menjadi sebab keselamatannya. Mahasuci Allah Yang Maha Mengatur dan Maha Bijaksana.

Seorang hamba menyadari baiknya pengaturan Allah setelah suatu peristiwa berlalu. Itulah sifat manusia kebanyakan. Berbeda dengan kalangan khusus yang memahami Allah dan mengetahui baiknya pengaturan Allah sebelum peristiwa itu berlalu. Kalangan khusus ini pun terbagi ke dalam beberapa tingkatan:

  • Ada orang yang berbaik sangka kepada Allah Swt sehingga mereka berserah diri kepada-Nya karena Dia telah banyak memberikan anugerah dan karunia.
  • Ada yang berbaik sangka kepada Allah Swt karena mengetahui bahwa merisaukan nasib dan ikut mengatur tidak akan mampu menolak ketentuan yang telah ditetapkan atas dirinya dan tidak akan mendatangkan apa yang bukan bagiannya.
  • Ada pula orang yang berbaik sangka kepada Allah Swt karena memahami hadis qudsi, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” la terus berbaik sangka kepada Allah Swt seraya bekerja dan berusaha dengan harapan Allah akan memperlakukannya sesuai dengan prasangkanya yang baik. Dan, Allah berbuat kepadanya sesuai dengan prasangkanya. Allah telah memudahkan karunia bagi orang beriman sesuai dengan prasangka mereka. Dia berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan.”
  • Tingkatan paling tinggi adalah orang yang menyerah dan pasrah kepada Allah Swt karena menyadari bahwa sikap itulah yang layak ia jalani, bukan karena mengharapkan kebaikan bagi dirinya.

(Dikutip dari al-Tanwir fi isqath al-tadbir, karya Ibn ‘Athaillah al-Sakandari).

Miskin Pikiran

“Miskin harta itu gampang sembuhnya, cukup dengan bekerja. Tapi kebanyakan orang miskin itu bukan miskin harta, mereka miskin pikiran.”

Emak selalu mengomelkan hal itu kepada kami sejak kami masih kecil. Ada banyak orang miskin di kampung kami ketika itu. Rumahnya reot, nyaris tumbang. Atap bocor di sana sini. Demikian pula dinding rumahnya, bolong di berbagai tempat. Rumah juga tanpa perabot. Untuk tidur mereka pakai tikar pandan yang sudah robek. Sekedar piring makan saja mereka pakai piring seng yang sudah berkarat.

Ibakah Anda melihat mereka? Mungkin. Tapi Emak lebih sering jengkel ketimbang iba. Kenapa? Di kampung kami dulu orang nyaris tak memerlukan uang. Hampir semua barang untuk hidup disediakan oleh alam. Untuk membuat atau membetulkan rumah, orang cukup pergi ke hutan, menebang berbagai jenis kayu untuk tiang, dan lantai, serta mengumpulkan daun-daun nipah untuk daun dan dinding. Demikian pula, daun pandan tersedia lebih dari cukup untuk membuat tikar. Jadi kalau orang kampung tinggal di gubuk reot seperti saya lukiskan tadi, mereka hanya pemalas saja.

Setiap musim peceklik menjelang musim panen padi, banyak orang datang ke kebun kami mengambil singkong untuk makan. Persedian padi mereka sudah habis. Waktu panen padi mereka dijual sebagian. Pokoknya dijual saja, tanpa menghitung kebutuhan selama setahun sampai panen tahun depan. Untuk menyambung hidup mereka makan singkong.

Tapi kenapa meminta di kebun kami? Karena mereka tidak menanam. Kenapa tidak menanam? Pemalas. Padahal kami hanya menanam singkong sekali saja, waktu membuka lahan kebun dulu. Setelah itu batang singkong yang kami buang saat panen singkong, tumbuh lagi, berumbi lagi. Kemudian tanaman singkong itu tumbuh liar di kebun kelapa kami. Artinya tidak perlu kerja berat benar untuk menghasilkan singkong itu.

Itulah yang disebut Emak miskin pikiran. Tidak ada dalam pikiran orang-orang itu untuk keluar dari kemiskinan. Padahal hanya diperlukan langkah kecil saja untuk itu.

Orang-orang miskin pikiran inilah yang banyak menjadi gelandangan di kota-kota. Mereka adalah orang-orang yang menikmati kemiskinan, bahkan mengeksploitasi kemiskinan mereka. Mereka mengemis di tengah lalu lalangnya orang-orang yang bekerja. Mereka mengemis di tengah pasar, di depan orang-orang yang bekerja. Para pekerja di pasar itu tidak semuanya orang bermodal. Banyak yang hanya bermodal tenaga kasar saja. Tapi apa yang membedakan pekerja kasar itu dengan pengemis? Pikiran. Mereka memilih untuk bekerja.

Jadi kalau kita berikan uang receh kita kepada para pengemis itu, kita sedang mengawetkan mereka di tempat itu. Mereka menikmati posisi sebagai orang miskin, sementara kita juga menikmati posisi kita sebagai pemberi. Ada rasa puas dan bahagia di benak kita saat memberi. Ada harapan mendapat ganjaran pahala yang akan menyelamatkan kita dari siksa neraka. Selesai. Kita dan orang-orang miskin bekerja sama melestarikan kemiskinan.

Bila kita memang ingin membebaskan mereka dari kemiskinan, mulailah mengajari mereka untuk berhenti bermental miskin. Hidup harus bekerja. Kalau tidak mau bekerja, lebih baik jangan hidup. Makin banyak kerja, makin banyak penghasilan. Ingin punya penghasilan lebih, bekerjalah lebih banyak lagi.

Bagaimana caranya? Sedekahlah melalui lembaga-lembaga yang mengorganisasikan dana menjadi kegiatan-kegiatan produktif. Kalau kita memang punya dana lebih, ambillah anak asuh, sekolahkan mereka sampai selesai. Atau, beri modal kepada orang-orang yang mau berusaha. Saya kira hal-hal ini sudah kita ketahui bersama.

Source: Miskin Pikiran