PILIHAN & KONSEKUENSI

PILIHAN & KONSEKUENSI

 

Orang bilang, hidup itu pilihan. Tidak. Kalimat itu hanya sepenggal. Kalimat itu tidak lengkap. Ada bagian yang dihilangkan.

Ya, Anda memang bebas memilih untuk mengambil keputusan seperti apa. Memilih itu memang berarti mengambil keputusan. Dan…jangan sampai lupa, bahwa memilih itu ya mesti mau tidak mau, ya menanggung konsekuensi dari pilihan Anda. Jika sudah memilih tapi tak mau bertanggung jawab atas konsekuensinya, ya persoalan itu akan terus mengejar sampai kapan pun. Mengikat Anda.

Padahal, mengambil keputusan ini sebenarnya mudah. Memilih menghadapi persoalan sekarang, maka beratnya 1 kg. Memilih besok, ya berat persoalan bertambah jadi 2 kg. Memilih 3 tahun mendatang, ya beratnya hampir 1 ton.
Ringkasnya, Anda memang bebas memilih, tetapi tidak bebas dari tanggung jawabnya.
***

Jadi, kalau Anda memutuskan melarang anak makan permen; lalu suami Anda memutuskan untuk membolehkannya makan permen daripada rewel, tidak usah berantem. Catat saja keputusan suami itu, kalau perlu direkam. Lalu, jika besok atau minggu depan, anak Anda rewel merengek minta permen lagi, minta suami yang bertanggung jawab sambil bawakan buku catatan tadi.

Jika Anda memutuskan melarang anak main game, dan istri Anda membolehkannya terus main daripada nggak mau makan, maka catat saja pilihannya itu. Dan jika kelak saat anak sudah berumur 25 tahun dan masih juga kecanduan main game dan tidak menyelesaikan kuliahnya, berikan catatan lama itu kepada istri Anda. Minta ia bertanggung jawab.

Tentu saja, dua kasus di atas ini bukan tips dari saya, walau silakan saja jika Anda mencobanya. Itu pilihan dan keputusan Anda. He…he…

Memilih itu mudah, jika Anda bersedia menanggung konsekuensinya. Tentu saja, Anda tidak ksatria, tidak bertanggung jawab, tidak berkomitmen, jika ikut campur mengambil keputusan, tetapi menyerahkan akibat atau konsekuensi dari pilihan itu ke tangan orang lain, khususnya pasangan Anda. Itu termasuk pengkhianatan.

Jadi, kalau istri sudah melarang anak makan permen, jangan menganulir keputusannya, jangan membatalkan keputusannya, kecuali jika Anda bersedia menanggung konsekuensinya. Kalau tidak bersedia menanggung konsekuensinya, ya lebih baik mengikuti keputusan istri.

Bersepakat akan suatu pilihan karena bersedia bertanggung jawab ini hal yang sangat penting. Jika Anda terbiasa bertanggung jawab, maka ketika sudah sepuh kelak, ketika sudah jadi kakek dan nenek, Anda akan memikir 777 kali sebelum mengintervensi pengasuhan cucu Anda. Biarkan saja orangtuanya yang mengambil keputusan. Anda sebagai nenek atau kakeknya, tidak perlu ikut campur mengambil keputusan — kecuali Anda mau menanggung konsekuensinya. Memangnya, kalau sudah tua, masih sanggup akan segala kerepotan mengurus cucu? Tidak kan? Bukankah lebih baik membaca koran atau novel di halaman sambil melihat cucu-cucu bermain dengan manis? Ingin begitu? Ya, itu tadi, jangan intervensi.

Selamat pagi. Selamat mengambil keputusan-keputusan baik. Tuhan memberkati keputusan Anda.

#ResponsibleDecision #ChoiceAndConsequences

 


*Shared fromĀ Dono Baswardono Parenting

Iklan